JAKARTA, pelitaharian.id — Prestasi industri teh PTPN IV PalmCo kembali mencuri perhatian setelah empat pabrik pengolahannya mengoleksi 14 penghargaan dalam ajang The 4th National Tea Competition (NTC) 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Teh Indonesia (ATI).
Penghargaan tersebut diberikan pada puncak kegiatan yang berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta. PalmCo harus bersaing dengan puluhan produsen teh dari berbagai wilayah Indonesia dalam kompetisi yang menilai mutu produk berdasarkan sejumlah kategori pengolahan.
Empat unit yang menyumbangkan penghargaan tersebut masing-masing Kebun Tobasari, Kebun Bah Butong, Kebun Kayu Aro, dan Kebun Danau Kembar.
Dalam kategori teh hitam dengan metode Orthodox, Tobasari mencatat sejumlah hasil. Produk dari pabrik tersebut menjadi Juara 1 kategori Broken Pekoe (BP) dan Juara 2 kategori Pekoe Fannings (PF).
Tobasari juga memperoleh Juara 3 untuk kategori Broken Orange Pekoe Fannings (BOPF) dan DUST.
Prestasi lainnya datang dari Pabrik Bah Butong. Unit tersebut meraih Juara 2 masing-masing pada kategori BP, BOP dan BOPF, serta menempati Juara 3 kategori PF.
Sementara itu, Pabrik Danau Kembar melengkapi raihan PalmCo pada sistem Orthodox dengan mendapatkan Juara 3 kategori BP.
Adapun pada pengolahan teh hitam menggunakan metode Crushing, Tearing, and Curling (CTC), Pabrik Kayu Aro tampil dengan sejumlah capaian. Kayu Aro meraih Juara 1 kategori Fanning, kemudian Juara 2 kategori PD dan BP1, serta Juara 3 kategori PF 1 dan D1.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menyebut hasil tersebut berkaitan dengan konsistensi perusahaan dalam menjaga mutu teh melalui rangkaian proses produksi.
“Capaian di NTC 2026 ini bukan sekadar tentang memenangkan kompetisi, melainkan wujud dari konsistensi kami untuk terus memproduksi teh berkualitas grade satu. Transformasi yang berjalan di internal perusahaan memastikan bahwa standar operasional, mulai dari proses pemetikan pucuk daun, proses pengolahan, sortasi hingga tahap pengepakan, dilakukan secara presisi untuk memenuhi ekspektasi pasar, baik domestik maupun ekspor,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis.
Menurut Jatmiko, penilaian dalam kompetisi tersebut juga menjadi salah satu tolok ukur terhadap kualitas produk teh yang dihasilkan perusahaan. Ia mengatakan proses penjurian dilakukan oleh para pakar teh yang memiliki sertifikasi internasional.
Di Tengah Tekanan Iklim dan Harga Komoditas
Capaian PalmCo tersebut berlangsung ketika sektor teh nasional menghadapi tantangan dari sisi produksi maupun kondisi pasar.
Direktur Operasional PTPN IV PalmCo Rediman Silalahi menerangkan, dinamika harga komoditas serta kondisi cuaca menjadi faktor yang harus diperhitungkan produsen teh dalam menjaga keberlanjutan produksi.
“Kondisi di lapangan saat ini cukup dinamis. Produsen teh di Indonesia tengah berhadapan dengan masalah fluktuasi harga komoditas dan anomali cuaca berupa kemarau panjang atau El Nino. Faktor iklim ini sangat krusial karena secara langsung berdampak pada penurunan total kapasitas produksi teh secara nasional,” jelas Rediman.
Menghadapi kondisi tersebut, PalmCo melakukan sejumlah langkah mitigasi di sektor agronomi. Upaya itu diarahkan untuk mempertahankan produktivitas tanaman sekaligus menjaga kualitas pucuk daun yang menjadi bahan baku utama teh.
Rediman menilai raihan penghargaan dalam NTC 2026 menunjukkan bahwa berbagai langkah pembenahan tersebut tetap berjalan di tengah tekanan perubahan kondisi cuaca.
“Di tengah tantangan El Nino, penghargaan yang diraih pabrik-pabrik kami membuktikan bahwa intervensi agronomi dan perbaikan tata kelola yang kami lakukan berada di jalur yang tepat (on the track). Tantangan cuaca tidak menyurutkan komitmen kami dalam menghadirkan secangkir teh terbaik bagi konsumen,” tutup Rediman.
NTC 2026 sendiri diikuti 74 sampel teh dari 32 perusahaan. Seluruh sampel dinilai melalui metode blind testing, sehingga produk diuji tanpa identitas produsennya diketahui oleh dewan juri.
Ajang yang diselenggarakan ATI tersebut menjadi forum kompetisi mutu sekaligus bagian dari upaya mendorong peningkatan kualitas dan citra teh Indonesia agar semakin memiliki daya saing di pasar internasional.













