“Ini adalah Kabupaten Nahdiyin. Kalau saudara-saudara Al Washliyah seperti ini, berarti saudara bukan kader Al Washliyah. Saudara provokasi!” ucapnya lantang di hadapan ribuan pendemo.
Pernyataan tersebut langsung disambut gelombang penolakan. Massa menyebut pernyataan itu provokatif dan menyinggung keberadaan organisasi Al Washliyah.
Ketegangan makin menjadi saat Bupati Asri Luddin Tambunan akhirnya keluar, namun hanya berdiri di lapangan dalam kantor, tidak menemui massa di luar pagar. “Kami tidak mau diwakilkan, temui kami di titik pusat aksi, di luar pagar!” ujar salah seorang perwakilan massa, yang bahkan menjamin keamanan Bupati jika bersedia keluar.
Namun Wakil Bupati kembali menghalangi, mengusulkan agar dialog dilakukan di batas pagar yang roboh. Perdebatan pun terjadi, hingga akhirnya Bupati memilih masuk kembali ke kantor.
Meski begitu, suasana mulai mencair setelah tujuh perwakilan massa setuju untuk berdialog langsung dengan Bupati.
Sementara itu, dalam pernyataan resminya sebelum berdialog terkait ucapannya bahwa pemkab Deli Serdang tidak pernah merampas aset Al Washliyah Al Jamiyatul, Wakil Bupati Lom Lom Suwondo menegaskan bahwa menurut putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, SMP Negeri 2 Galang dan puskesmas tidak termasuk dalam objek sita. Ia juga menyebut kehadiran massa sebagai bentuk kasih sayang, meskipun ia menilai sebagian peserta belum memahami sepenuhnya isu yang berkembang.













