1. Distribusi Tenaga Medis yang Tidak Merata
Distribusi tenaga medis yang tidak merata menjadi salah satu penyebab utama terbatasnya akses terhadap obat-obatan di daerah terpencil. Berdasarkan penelitian, sekitar 65% pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di wilayah terpencil seperti Maluku tidak memiliki dokter, dan hampir 49% puskesmas di daerah tersebut tidak memiliki bidan.Ketimpangan ini menghambat pelayanan kesehatan yang optimal dan memperburuk kondisi akses obat-obatan di wilayah tersebut. Selain itu, rendahnya motivasi dan kurangnya insentif bagi tenaga medis untuk bekerja di daerah terpencil memperburuk masalah ini. Penelitian menunjukkan bahwa faktor seperti latar belakang geografis tenaga medis, pengalaman kerja di daerah terpencil, dan program insentif pemerintah berperan penting dalam menentukan keberlanjutan pelayanan medis di wilayah-wilayah ini. Meskipun pemerintah telah meluncurkan program insentif untuk tenaga medis di daerah terpencil, efektivitasnya masih perlu ditingkatkan.
2. Infrastruktur Kesehatan yang Terbatas
Keterbatasan infrastruktur, terutama transportasi dan fasilitas penyimpanan obat-obatan, juga merupakan salah satu faktor penghambat distribusi obat-obatan di daerah terpencil. Daerah-daerah dengan akses transportasi yang sulit, seperti Maluku dan Papua, sering kali menghadapi masalah distribusi obat-obatan yang terhambat oleh kondisi geografis yang sulit dijangkau. Sebuah studi menunjukkan bahwa jarak rata-rata dari populasi di Maluku ke pusat layanan kesehatan primer (puskesmas) adalah 8,89 km melalui darat dan 18,43 km melalui darat dan laut. Jarak yang jauh ini berdampak negatif pada akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan obat-obatan. Selain itu, keterbatasan fasilitas penyimpanan obat-obatan yang memadai menyebabkan ketersediaan obat di fasilitas kesehatan menjadi terbatas. Hal ini menghambat akses masyarakat terhadap obat-obatan yang mereka butuhkan, terutama di daerah terpencil dengan akses transportasi yang sulit.












