Politik & Pemerintahan

RPH Medan Disulap Menjadi Perusahaan Daerah Mandiri, Fokus Profesionalisme dan Bisnis Ramah Pasar

5
×

RPH Medan Disulap Menjadi Perusahaan Daerah Mandiri, Fokus Profesionalisme dan Bisnis Ramah Pasar

Sebarkan artikel ini

Penguatan Manajemen, Efisiensi Operasional, dan Sinergi Perangkat Daerah Jadi Kunci Peningkatan Pendapatan dan Ketahanan Pangan

Rico Tri Putra Bayu Waas, Wali Kota Medan, menyampaikan strategi pembenahan manajemen dan penguatan usaha Rumah Potong Hewan di Balai Kota Medan, di hadapan jajaran Direksi PUD RPH, Rabu 25/2/2026. (pelitaharian.id/Foto: ist)

Medan, pelitaharian.id – Pemerintah Kota Medan mengambil langkah strategis untuk membenahi Rumah Potong Hewan (RPH) sebagai Perusahaan Umum Daerah (PUD) dengan aset strategis yang cukup besar. Transformasi ini bertujuan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat manajemen profesional, mengoptimalkan pendapatan, dan mendukung ketahanan pangan lokal.

Langkah pembenahan ini dipaparkan oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, saat rapat rencana kerja Direksi PUD RPH di ruang rapat I, Balai Kota, Rabu (25/2/2026). Pertemuan dihadiri sejumlah pejabat Pemko Medan, seperti Asisten Ekbang Citra Effendi Capah, Asisten Umum Laksamana Putra Siregar, Kepala Inspektorat Erfin Fahrurrazi, Kasat Pol PP Muhammad Yunus, Kabag Perekonomian Reza Hanafi, serta Dirut PUD RPH Irwansyah Gultom bersama jajaran direksi.

Menurut Rico Waas, lahan RPH seluas 5,2 hektare di pusat Kota Medan memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, pendapatan saat ini belum sebanding dengan nilai aset tersebut.

“Dengan lahan seluas itu, potensi usaha sangat besar. Oleh karena itu, perlu pembenahan serius, terutama dalam pengelolaan keuangan dan manajerial,” kata Rico Waas.

Wali kota menekankan pentingnya audit internal dan penataan sistem keuangan yang transparan. Profesionalisme manajemen dianggap sebagai faktor utama untuk memulihkan kinerja perusahaan dan menumbuhkan kepercayaan publik.

“Efisiensi operasional juga menjadi perhatian, termasuk evaluasi biaya air dan listrik. Pemerintah mendorong kajian teknis terhadap penggunaan mesin boiler dan sistem pemanasan, agar hemat energi tanpa mengurangi efektivitas operasional,” tambahnya.

Selain itu, Rico Waas menyoroti perlunya regulasi yang lebih ketat dan pengawasan terhadap pemotongan hewan di luar RPH. Beberapa hewan potong belum melalui pemeriksaan resmi, sehingga dapat mengurangi pendapatan retribusi dan berisiko bagi kesehatan masyarakat.

“Diperlukan sinergi lintas instansi, termasuk Satpol PP dan perangkat daerah terkait, untuk memastikan seluruh hewan potong yang beredar di Kota Medan melalui pemeriksaan resmi. Upaya ini diharapkan meningkatkan keamanan pangan sekaligus menambah pendapatan RPH,” jelas Rico Waas.

Dalam pengembangan usaha, RPH diarahkan memiliki model bisnis berkelanjutan dengan permintaan pasar yang stabil setiap hari. Salah satu strategi utama adalah pengembangan usaha ternak ayam dan produksi telur terintegrasi dengan program SPPG serta kebutuhan sektor pangan lainnya.

“Kita harus memiliki bisnis yang demand-nya stabil setiap hari. Pengembangan ayam dan telur ini bisa menjadi titik balik RPH,” tegas Rico Waas.

RPH juga membuka peluang kerja sama dengan SPPG sebagai pemasok protein hewani, dengan target awal 1.000–2.000 butir telur per hari. Jaringan distribusi dapat diperluas melalui Koperasi Merah Putih dan mitra lokal untuk memperkuat rantai pasok.

Selain itu, pengembangan usaha RPH dapat dipercepat melalui kerja sama dengan investor maupun penyertaan modal Pemko Medan, tetap mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik. Optimalisasi hangar dan lahan yang belum produktif menjadi fokus strategi bisnis baru.

“RPH juga bisa menjajaki kerja sama dengan hotel, restoran, dan pelaku usaha kuliner melalui penyediaan produk daging dan telur dengan kemasan modern dan higienis untuk meningkatkan nilai tambah,” ungkap Rico Waas.

Dengan pembenahan manajemen, efisiensi operasional, pengawasan ketat, dan pengembangan lini usaha baru, RPH diharapkan menjadi perusahaan daerah yang produktif, sehat, dan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan PAD serta ketahanan pangan Kota Medan.