“Perusahaan angkutan kota (angkot) yang armadanya cukup banyak masih dibutuhkan masyarakat pedesaan sebagai angkutan desa yang menghubungkan antar kecamatan yang jaraknya cukup jauh. Pasti pengusaha angkutan sudah menjangkau kelangsungan usahanya dan mempersiapkan pemindahan armadanya dari Kota Medan,” ungkapnya.
Jadi menurut anggota Komisi 4 ini, jangan ada yang memanas-manasi perusahaan angkutan agar demo memprotes kehadiran bus massal. Karena kemajuan zaman tidak bisa dihempang, orang akan memilih yang simpel, mudah, murah dan nyaman, tidak mungkin orang tetap hidup seperti di zaman batu.
Kehadiran bus listrik mendukung operasional bus massal sebelumnya seperti Damri dan Trans Medan Deli. Ketiga bus ini akan mengurangi kemacetan lalu lintas, karena orang akan memilih naik bus daripada mengeluarkan kenderaan sendiri yang pasti biayanya lebih besar. Untuk itu diharapkan, jika bus listrik sudah berbayar hendaknya harganya lebih murah, bahkan harus lebih murah daripada OJOL dan TAJOL.
“Kita harapkan, Wali Kota Bobby Nasution menghimbau seluruh ASN di jajaran Pemko Medan naik bus massal demi mendukung program wali kota mengatasi kemacetan. Saya akan memulai naik bus massal jika ke DPRD Medan, semoga unitnya bertambah dan ada melintas di Jalan Karya,” tuturnya.












