BATUBARA, pelitaharian.id — Pembangunan daerah tidak selalu dapat dilihat dari banyaknya gedung, jalan maupun infrastruktur yang berdiri. Bagi Aria Sitorus, kualitas sebuah daerah juga ditentukan oleh bagaimana ruang hidup masyarakat dirancang, dikelola dan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan jangka panjang.
Pandangan tersebut tidak terlepas dari latar belakang Aria yang berkecimpung di bidang arsitektur. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Arsitektur dan memiliki pengalaman profesional yang berkaitan dengan perencanaan, desain, pengembangan fasilitas hingga pengelolaan kawasan.
Saat ini, Aria masih melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 Arsitektur. Pendidikan lanjutan itu menjadi bagian dari proses memperkuat kapasitas akademik sekaligus memperluas pemahamannya mengenai lingkungan binaan dan perencanaan kawasan.
Ketertarikannya terhadap pembangunan daerah kemudian berkembang tidak hanya pada aspek desain bangunan. Aria melihat arsitektur memiliki keterkaitan erat dengan tata ruang, fasilitas masyarakat, kualitas lingkungan dan bagaimana sebuah kawasan dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Sejumlah isu pembangunan menjadi perhatian yang menurutnya penting untuk dipikirkan secara terintegrasi. Mulai dari fasilitas perkotaan, ruang terbuka hijau, kawasan permukiman, infrastruktur hingga keberlanjutan lingkungan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Dalam konteks Kabupaten Batubara, cara pandang tersebut membuat Aria melihat masih terdapat ruang untuk mengembangkan potensi daerah melalui perencanaan yang lebih menyeluruh. Pembangunan, menurut perspektifnya, perlu disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat sekaligus mempertimbangkan arah perkembangan wilayah dalam jangka panjang.
Tidak hanya persoalan tata ruang, perhatian Aria juga bersinggungan dengan isu regenerasi. Ia memandang keterlibatan generasi muda menjadi salah satu unsur penting dalam menentukan arah pembangunan daerah ke depan.
Menurut pandangan tersebut, anak muda tidak cukup hanya menyaksikan proses pembangunan dari luar. Mereka perlu membekali diri dengan pendidikan, pengalaman, kemampuan serta keberanian agar mampu mengambil peran ketika kesempatan untuk berkontribusi datang.
Perjalanan akademik dan profesional yang masih dijalani Aria menjadi bagian dari proses tersebut. Pengalaman di bidang arsitektur dan perencanaan dipadukan dengan pendidikan lanjutan untuk memperluas perspektifnya sebelum menentukan langkah yang lebih jauh dalam pengabdian kepada masyarakat.
Sosok Aria kemudian menarik perhatian bukan semata karena usianya yang relatif muda, tetapi juga karena perpaduan antara bidang keilmuan yang ditekuni dengan ketertarikannya terhadap persoalan pembangunan daerah.
Dengan latar belakang arsitektur, pengalaman profesional serta proses pendidikan yang masih berlangsung, Aria Sitorus menjadi salah satu figur muda yang patut diperhatikan dalam dinamika generasi baru Batubara, khususnya dalam pembicaraan mengenai arah pengembangan kawasan dan kualitas lingkungan masyarakat.
Bagi Aria, ukuran keberhasilan pembangunan tidak berhenti pada jumlah proyek yang terealisasi. Lebih jauh, pembangunan idealnya mampu menghadirkan ruang yang layak, fasilitas yang bermanfaat, lingkungan yang nyaman dan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat serta generasi mendatang.












