Meski terlihat menakjubkan, fenomena yang kemudian populer dengan sebutan “hujan darah” itu menimbulkan rasa penasaran publik mengenai penyebab ilmiahnya.
Penjelasan Ilmiah Fenomena Hujan Darah di Pulau Hormuz
Mengutip laporan The Independent, fenomena blood rain tersebut terjadi di Pulau Hormuz, sebuah wilayah di Iran yang terletak di Selat Hormuz. Warna merah yang muncul pada aliran air hujan dan sepanjang garis pantai disebabkan oleh kandungan tanah yang sangat kaya akan besi teroksidasi atau besi yang mengalami proses karat.
NASA Earth Observatory menjelaskan bahwa Pulau Hormuz merupakan sebuah kubah garam yang kaya akan mineral.
“Pulau ini merupakan kubah garam, yakni tonjolan berbentuk tetesan air mata yang terdiri atas garam batu, gipsum, anhidrit, dan material evaporit lainnya yang terdorong ke atas menembus lapisan batuan di atasnya,” tulis NASA Earth Observatory dalam keterangannya.
NASA juga menambahkan bahwa garam batu atau halit memiliki sifat lemah dan mudah mengalir seperti cairan ketika berada di bawah tekanan tinggi. Namun, material yang muncul ke permukaan Pulau Hormuz tidak hanya berupa garam.










