Di pulau tersebut juga terdapat lapisan tanah liat, karbonat, serpih, serta batuan vulkanik yang mengandung kadar besi tinggi. Ketika material tersebut terdorong ke permukaan dan berinteraksi dengan air hujan serta mineral lain, terjadilah perubahan warna mencolok menjadi merah, kuning, hingga oranye.
Studi sebelumnya menyebutkan bahwa Pulau Hormuz memiliki cadangan besi yang cukup melimpah. Sementara itu, UK Met Office menjelaskan bahwa fenomena blood rain umumnya terjadi ketika hujan membawa debu atau pasir berwarna kemerahan. Namun, khusus di Pulau Hormuz, fenomena ini lebih dipengaruhi oleh tanah merah kaya besi teroksidasi yang larut dan terbawa aliran air hujan hingga ke kawasan pantai.
Bernilai Budaya, Namun Berisiko bagi Kesehatan
Menariknya, tanah merah di Pulau Hormuz tidak hanya memiliki daya tarik visual, tetapi juga nilai budaya bagi masyarakat setempat. Tanah tersebut dikenal dengan sebutan gelak dan kerap dimanfaatkan sebagai campuran bumbu masakan tradisional, termasuk pada roti khas bernama tomshi.
Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa konsumsi tanah merah tersebut secara rutin berpotensi berbahaya. Hal itu disebabkan kandungan logam berat di dalam tanah yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan manusia apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.










