Ia menjelaskan, Ulos memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Batak. Kain tradisional tersebut berkaitan dengan berbagai tahapan kehidupan, mulai dari kelahiran hingga kebahagiaan dan pernikahan.
Karena itu, pelestarian Ulos dinilai perlu diwujudkan melalui penggunaan dan pengembangan produk secara berkelanjutan, bukan hanya melalui perayaan atau kegiatan seremonial. Rico berharap MFCF dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus membuka peluang agar tenun tradisional semakin dikenal di dalam dan luar negeri.
Dekranasda Dorong Kolaborasi Desainer dan Pelaku UMKM
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Medan Ny. Airin Rico Waas menjelaskan bahwa MFCF 2026 dirancang dengan pendekatan kolaboratif yang mempertemukan desainer, stylist, narasumber, serta pelaku industri kreatif dari Medan dan Jakarta.
Melalui diskusi, pertukaran pengalaman, dan peragaan busana, kegiatan tersebut diharapkan memperluas wawasan desainer lokal, memunculkan inspirasi baru, serta membuka kesempatan kerja sama lintas daerah.
“Melalui kolaborasi ini, para desainer dan pelaku industri kreatif di Medan dapat saling berbagi pengalaman dan memperoleh inspirasi baru. Visi kami dalam lima tahun ke depan adalah membawa ekosistem fashion Kota Medan tidak hanya berkiprah di tingkat nasional, tetapi juga menembus panggung internasional,” tutur Airin.













