Airin menegaskan bahwa Ulos tidak semata-mata memiliki nilai estetika. Di dalamnya terdapat makna kasih sayang, doa, dan filosofi kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, inovasi dalam dunia fashion perlu tetap menghormati nilai yang terkandung dalam setiap wastra.
“Tradisi dan modernitas bisa berjalan bersama. Namun, setiap inovasi harus tetap menghormati makna, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ucap Airin.
Sebagai kota dengan keberagaman etnis, Medan dinilai memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi modal untuk mengembangkan industri kreatif. Selain Ulos, Airin berharap Uis Karo dan Tenun Melayu memperoleh ruang promosi yang lebih luas melalui kegiatan serupa.
Melalui MFCF 2026, Pemko Medan dan Dekranasda berupaya menyatukan pelestarian budaya dengan pertumbuhan ekonomi kreatif. Pembinaan pelaku usaha, peningkatan mutu produk, promosi, dan kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperluas peluang usaha serta meningkatkan kesejahteraan pengrajin dan UMKM.
Pada puncak acara, Rico Waas bersama Airin menyerahkan cenderamata kepada desainer Edward Hutabarat dan Torang Sitorus. Kegiatan tersebut juga diisi dengan sesi talk show yang menghadirkan kedua desainer sebagai narasumber.













