Hasyim menyebutkan, festival ini adalah bagian dari kebudayaan Tionghoa yang melambangkan cinta kasih dan juga memiliki filosofi yang mendalam.
“Festival kue bulan merupakan perayaan terbesar kedua bagi masyarakat Tionghoa, setelah tahun baru Imlek. Festival ini jatuh setiap tanggal 15 bulan ke-8 pada kalender tradisional China. Perayaan ini juga sering dikenal sebagai Festival Pertengahan Musim Gugur. Biasanya, momen perayaan Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival ini digunakan sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga dan menikmati kue bulan bersama,” kata Hasyim Politisi dari Fraksi PDI Perjuangan DPRD Medan ini.
Senada dengan Hasyim, anggota DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen saat dikonfirmasi di lokasi mengatakan, bahwa perayaan Kue bulan juga memiliki sejarah. “Pada acara perayaan festival ini, keberadaan kue bulan tentu sangat penting. Menurut legendanya, kue bulan menjadi persembahan bagi roh bulan, yakni permaisuri Chang’e yang diceritakan. Tapi, ada pula cerita yang menyebut bahwa kue bulan merupakan kue perjuangan. Beragam bentuk gambar di bagian atas kue ini menjadi pesan rahasia untuk menggulingkan kekuasan Mongol,” sebutnya.













