Salah seorang relawan PT Timbang Langsa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi lingkungan pascabanjir.
“Sisa puing genangan banjir sekarang sudah menjadi timbunan sampah bercampur lumpur. Kondisi ini sangat dikhawatirkan bisa menjadi sumber wabah penyakit,” ujarnya.
Ia menambahkan, lumpur yang telah mengering juga berubah menjadi debu yang bercampur sampah, sehingga mengganggu jarak pandang pengendara dan membahayakan keselamatan lalu lintas.
“Lumpur dan sampah ini sudah sangat meresahkan pengguna jalan yang melintas Kota Langsa. Atas perintah atasan, kami turun sebagai relawan untuk membersihkannya,” katanya.
Saat dikonfirmasi awak media, Manajer PT Timbang Langsa, Mujiluddin, membenarkan bahwa pihaknya kembali menurunkan alat berat dan personel perusahaan untuk membantu pembersihan tersebut.
“Benar, kami mengerahkan Bechoe Loader Case bersama karyawan untuk membersihkan sampah dan lumpur yang membahayakan masyarakat luas,” kata Mujiluddin.
Menurutnya, dengan kondisi lumpur dan puing pascabanjir yang cukup parah, proses pembersihan tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat.
“Untuk pembersihan sisa puing dan lumpur akibat banjir dan longsor hidrometeorologi ini, paling cepat membutuhkan waktu sekitar tiga hari,” ungkapnya.













