Sugianto Makmur juga menilai, krisis energi akan membuat manusia semakin giat mencari sumber energi baru, sebab Batubara dan minyak bumi akan semakin berkurang, bahkan minyak nabati menjadi rebutan antara menjadi pangan atau energi. Sementara energi air diharapkan tidak bisa lagi diandalkan, karena hutan-hutan sudah rusak.
Dengan alam yang kondisi saat ini ‘compang camping’, katanya, tidak jarang terdengar banjir dan longsor, angin puting beliung, bahkan gempa juga semakin mengancam, karena sekarang jauh lebih banyak manusia dan bangunan-bangunan yang tidak dibangun untuk mengurangi resiko gempa. Contohnya Tsunami sebagai akibat dari gempa juga bukan ancaman kecil, terbukti dari Tsunami Aceh.
Tantangan lainnya, ungkap anggota FPDI Perjuangan DPRD Sumut ini, penyakit menular berasal dari virus terus bermutasi mengancam tanaman, hewan dan manusia. Segala jenis varian baru yang gampang menular dan mematikan, ancaman yang berat. Bila ada virus baru yang menyerang padi, tentu akan mengakibatkan kelaparan dunia dan kematian. “Masih segar di pikiran kita, Virus ASF yang menyerang ternak babi, mengguncang perekonomian masyarakat peternak babi. Virus itu sangat menular dan mematikan. Kemudian Covid sampai sekarang masih terus bermutasi. Sepertinya kita perlu ahli yang mengerti dan bisa memprediksi perilaku mutasi virus. Kita perlu laboratorium dan tim yang cerdas, karena sebuah varian mematikan, bisa berakibat runtuhnya peradaban manusia,” ungkapnya.













