Diketahui juga, kata Budi Sulistiyo, nantinya nama dari abu yang disimpan ditempat itu tidak dicantumkan dan hanya memakai nomor. “Sehingga hanya pihak keluarga lah yang mengetahui abu siapa yang disimpan di tempat itu,”kata nya.
Diterangkan lagi, bahwa permasalahan manusia bukan hanya saat hidup namun juga saat setelah meninggal.
Dalam kepercayaan umat Budha, ada 2 cara yang dilakukan ketika meninggal, antara lain dimakamkan dan dikremasi. “Tempat tersebut dinamakan Kolumbarium (rumah abu), dan Mapanbumi telah menjawab itu,”sebutnya.
Selaku pembimbing masyarakat Budha di Sumut, tidak lupa Budi Sulistiyo mengucapkan apresiasi yang setinggi tingginya kepada Mapanbumi dan pihak pihak dari lembaga umat Budha serta para donatur yang telah memberikan bantuan materi dan non materil sehingga Pemancangan tiang pertama Kolumbarium tersebut dapat dilaksanakan.
“Tadi kita sudah dengarkan bahwa selain tempat rumah abu, tempat ini juga akan dijadikan tempat wisata religius dengan arsitektur modern. Keberadaan Kolumbarium di tempat itu diharapkan juga mampu bermanfaat bagi penduduk lokal dimana nantinya dapat merekrut penduduk lokal sebagai pekerja di tempat ini,”terangnya.












