Saat ditanya tentang dampak lingkungan dari hilirisasi, Gilang menjelaskan bahwa program hilirisasi mengikuti prinsip-prinsip keberlanjutan. Gilang Sukma: “Untuk dampak lingkungan, kami sudah berkomitmen pada Sustainable Development Goals 2030. SDG 2030 mendorong setiap industri pertambangan untuk melakukan operasi yang lebih hijau. Artinya, jika tidak mengikuti prinsip ini, akan lebih sulit memasarkan produk. Kami di INALUM dan seluruh holding industri pertambangan memastikan bahwa setiap program hilirisasi yang kami jalankan memiliki dampak yang bisa dikelola dengan baik dan minimal untuk masyarakat.” ujarnya.
Lebih lanjut, Gilang membahas lokasi proyek alumina yang akan datang. Gilang Sukma: “Alumina akan diproduksi di Mempawah, Kalimantan Barat. Kami berkoordinasi dengan Antam, dan saat ini kami memiliki perusahaan hasil kolaborasi yang bernama Borneo Alumina Indonesia. Kami menargetkan untuk menghasilkan lebih dari 3 juta ton bauksit per tahun. Dari jumlah tersebut, sebagian besar akan digunakan untuk pembuatan aluminium dan sisanya akan didistribusikan ke industri lain yang memerlukan bahan baku alumina.”













