Politik & Pemerintahan

Sekdaprov Sumut Ungkap Surplus Ayam Ras 61 Ribu Ton, Tapi Masih Jadi Pemicu Inflasi?

26
×

Sekdaprov Sumut Ungkap Surplus Ayam Ras 61 Ribu Ton, Tapi Masih Jadi Pemicu Inflasi?

Sebarkan artikel ini
Sekdaprov Sumut Togap Simangunsong memberikan arahan kepada jajaran Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut terkait pengendalian inflasi di Kantor Dinas, Jalan AH Nasution Medan, Kamis (4/9/2025). (pelitaharian.id/Foto: Ist).

MEDAN, pelitaharian.id – Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumatera Utara (Sumut) Togap Simangunsong meminta Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut untuk tetap berperan aktif dalam mengendalikan inflasi, terutama yang bersumber dari komoditas perkebunan dan peternakan. Pasalnya, daging ayam ras masih menjadi salah satu penyumbang inflasi di Sumut.

Hal itu disampaikan Sekdaprov Togap Simangunsong saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut di Jalan AH Nasution, Medan, Kamis (4/9/2025).

Menurut Togap, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut hingga Agustus 2025, selain beras dan bawang merah, daging ayam ras tercatat menyumbang inflasi sebesar 0,12% (m-to-m).

“Saya melihat berdasarkan data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut, kita mengalami surplus daging ayam ras sebesar 61.526 ton dari total kebutuhan 218.239 ton dengan produksi 279.766 ton. Namun meskipun secara angka kita surplus, tetap ada permasalahan yang harus menjadi perhatian, mulai dari distribusi, kestabilan harga, hingga keterjangkauan bagi masyarakat,” jelas Togap.

Ia menekankan agar Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut tetap aktif memantau pasokan dan harga. Jika ada potensi kelangkaan atau lonjakan harga, maka langkah cepat harus segera diambil melalui koordinasi lintas OPD dan stakeholder.

Selain itu, Togap menekankan pentingnya menjaga rantai distribusi, meningkatkan produksi lokal, serta mendorong sinergi antara petani, peternak, dan pemerintah. Dengan demikian, Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mendukung upaya Pemprov Sumut menekan laju inflasi.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut, Zakir Syarif Daulay, dalam kesempatan itu memaparkan kondisi sekaligus tantangan sektor perkebunan dan peternakan di Sumut. Menurutnya, luas perkebunan rakyat di Sumut mencapai 2,1 juta hektare, yang ditanami beragam komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, kelapa dalam, hingga aren.

“Namun, sektor perkebunan rakyat masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya akses permodalan terbatas, rendahnya penerapan teknologi budidaya, serta harga pasar yang fluktuatif,” ungkap Zakir.

Sementara itu, sektor peternakan di Sumut tersebar di berbagai daerah, antara lain Kabupaten Karo, Dairi, dan Simalungun yang fokus pada sapi perah dan kambing, sedangkan di wilayah pesisir dikembangkan ternak itik dan ayam kampung.

Zakir juga menyampaikan bahwa ketersediaan pangan hewani di Sumut saat ini mencatat surplus pada daging sapi sebesar 10.959 ton, daging ayam ras 61.526 ton, dan telur ayam 473.249 ton. Namun untuk susu, Sumut masih defisit sekitar 675,9 juta liter dari total kebutuhan sebesar 684,1 juta liter.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Zakir menyebut pihaknya telah menerapkan berbagai strategi, mulai dari penggunaan bibit unggul, penerapan teknologi budidaya modern, hingga hilirisasi produk melalui pengolahan lokal.

Di akhir paparannya, ia menegaskan bahwa Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut siap mendukung program Asta Cita Presiden melalui upaya swasembada pangan dan energi, sekaligus menyukseskan visi-misi Sumut Berkah dalam mewujudkan stabilitas ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Pertemuan itu juga dihadiri pejabat eselon, Kepala UPT melalui sambungan zoom, serta jajaran staf Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *