Karena, lanjut Sekretaris FP Golkar DPRD Sumut ini, sekarang ini pengunjung ke Bukit Lawang misalnya, kesannya untuk menginap dan mandi-mandi, bukan lagi fokus ke wisata alam melihat orang hutan. “Pengelola juga haendaknya menata areal batas pengunjung agar tidak mengganggu habitat Orang Hutan maupun Harimau Sumatera yang ada di dalam hutan wilayah Bahorok Bukit Lawang, karena yang perlu diantisipasi monyet-monyet, semua jenis binatang yang ada di dalam hutan tidak lepas yang bisa membahayakanmasyarakat,” ujarnya.
Anggota Komisi B Sugianto Makmur mengapresiasi kerja keras pengelola satwa alam liar di kawasan taman wisata maupun taman nasional di lapangan, seperti menangani Harimau Sumatera yang sempat masuk kampung di beberapa daerah, telah dilakukan dengan baik, termasuk lahirnya bayi gajah di wisata alam Tangkahan.
Di dalam hutan khususnya di Sumut, lanjut Sugianto Makmur dari dapil Binjai-Langkat ini, tidak hanya tersembunyi satwa liar, seperti Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Orang Hutan dan lainnya, tapi juga banyak tanaman obat untuk jamu-jamuan yang bisa dimanfaatkan dan diolah untuk kesehatan. “Tanaman obat-obatan dan jamu-jamuan yang tumbuh di dalam hutan mungkin bisa dilakukan riset, karena memiliki nilai tinggi dan berpotensi, sehingga perlu dilakukan edukasi terhadap tanaman jamu-jamuan tersebut,” ujar Sugianto menyarankan.












