Ikhyar menambahkan, pertemuan kedua tokoh tersebut sejatinya bicara bagaimana mengimplementasikan program Trisaktinya Sukarno di tengah tekanan dan dikte negara maju terhadap Indonesia
” Inti pembahasan kedua tokoh tersebut sebenarnya bicara bagaimana mengimplementasikan program Trisakti Sukarno yaitu berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan di tengah tekanan dan dikte dari negara maju khususnya UE dan AS terhadap produk kita sawit dan njkel yang sangat laku di pasar dunia, maka solusinya adalah persatuan nasional. Persatuan nasional bukan hanya antara sesama kaum nasionalis tetapi juga dengan kekuatan nasionalis relejius,” tutur ikhyar
Mantan Ketua Relawan Jokowi Jaringan Amar Ma’ruf Sumatera Utara ini sependapat dengan Budiman bahwa Prabowo bisa menyatukan kelompok nasionalis relijius dan kekuatan relejius yang nasionalis
” Di lihat dari backgroundnya dan ide idenya, Prabowo adalah seorang nasionalis yang dekat dengan berbagai kalangan dan spektrum kekuatan politik yang ada di Indonesia, beliau dekat dengan kekuatan Islam, familiar dengan aktivis Pro Demokrasi dan di apresiasi oleh kalangan akademisi dan teknokrat, beliau satu satunya figur setelah Jokowi yang bisa menyatukan semua kekuatan dan spektrum politik yang ada di Indonesia untuk bangkit melawan dominasi kapitalisme internasional,” katanya













