Medan, pelitaharian.id – Kasus dugaan penganiayaan terhadap Muhammad Rezeki Nasution pada 31 Agustus 2024 di Saentis, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, semakin menarik perhatian publik. Kedua belah pihak yang terlibat, yakni Rezeki dan keluarga terlapor, AN Cs, memberikan pernyataan yang saling bertentangan, memicu pertanyaan apakah ini benar kasus penganiayaan atau hanya kesalahpahaman.
Dalam sebuah pertemuan di Grand Mercure Hotel pada Senin (23/09/2024), Rezeki menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Relawan dan Tim Advokasi Pasti Bobby Sumut yang telah memberikan pendampingan hukum secara cuma-cuma.
“Saya sangat berterima kasih kepada Relawan dan Tim Advokasi Hukum Pasti Bobby yang telah mendampingi saya tanpa pamrih,” ujar Rezeki penuh haru.
Kasus ini bermula saat Rezeki melaporkan AN Cs atas dugaan penganiayaan. Laporan yang awalnya ditolak oleh Polsek Medan Tembung, akhirnya diterima berkat intervensi dari Tim Advokasi Pasti Bobby dengan nomor STTLP/B/1394. Tuduhan dalam laporan ini mencakup pelanggaran Pasal 351 Jo 170 KUHP terkait penganiayaan.
Ketua Tim Advokasi Pasti Bobby Sumut, Muhammad Sa’i Rangkuti, SH., MH., menegaskan komitmennya untuk mengawal kasus ini hingga selesai. “Kami siap mengawal kasus ini sampai tuntas dan memastikan keadilan ditegakkan,” katanya tegas.
Di sisi lain, keluarga AN Cs memberikan versi yang berbeda. YL, menantu AN Cs, mengklaim bahwa masalah ini dipicu oleh akun media sosial yang menghina dan melecehkan keluarga mereka. Akun tersebut mengirim foto tidak senonoh yang memancing kemarahan suaminya, hingga terjadi perkelahian dengan Rezeki.
“Suami saya bereaksi karena situasi yang panas, bukan penganiayaan atau pengeroyokan seperti yang dituduhkan,” ujar YL melalui pesan singkat.
YL juga meminta agar Tim Advokasi Pasti Bobby turut menyelidiki akun media sosial yang dianggap menjadi akar masalah. “Kami ingin keadilan bagi keluarga kami, terutama terkait akun yang menghina,” jelasnya.
Namun, pernyataan ini dibantah oleh Muhammad Rezeki Nasution, yang menyatakan bahwa AN Cs dan keluarganya datang tanpa peringatan dan langsung menyerang.
“Istri saya membuka pintu, dan mereka langsung menarik saya keluar tanpa penjelasan. Mereka menuduh saya memiliki akun FB palsu, namun sebelum kami melihat buktinya, saya sudah dipukul,” jelas Rezeki.
Ia juga menambahkan bahwa kejadian ini disaksikan oleh istri dan anaknya, yang mengalami trauma akibat aksi kekerasan tersebut. “Istri dan anak saya melihat saya dipukul oleh beberapa orang, termasuk AN Cs dan keluarganya,” tambahnya.
Proses hukum atas kasus ini masih berjalan, dengan masing-masing pihak mempertahankan versi cerita mereka. Apakah ini benar kasus penganiayaan atau hanya kesalahpahaman yang berujung pada kekerasan? Hanya waktu dan proses peradilan yang akan mengungkap kebenarannya.












