Berita Utama & Headline

Tangis Mahasiswi Jadi Kado Pahit HUT Bhayangkara

28
×

Tangis Mahasiswi Jadi Kado Pahit HUT Bhayangkara

Sebarkan artikel ini
Air mata Adelia pecah di hadapan polisi dan massa aksi, menyerukan agar pelaku pembunuhan ayahnya ditangkap, 2 Juli 2025. (pelitaharian.id/ Foto: Aris).

Medan, pelitaharian.id – Suasana haru menyelimuti peringatan HUT ke-79 Bhayangkara di depan Mapolda Sumut, Rabu, 2 Juli 2025. Seorang mahasiswi, Adelia Azzurah, menangis pilu saat aksi damai berlangsung, meminta keadilan atas kematian ayah kandungnya.

“Saya sudah 18 tahun tidak bertemu ayah. Sekali saya dapat kabar, beliau sudah meninggal dunia. Saya mohon, tolong usut sampai tuntas,” ucap Adelia dengan suara bergetar, air mata mengalir di pipinya, memohon keadilan di hadapan aparat dan massa.

Aksi damai ini digelar oleh Mahasiswa Pemerhati Keadilan Sumatera Utara. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Tangkap Semua Pelaku, Copot Penyidik LP 591/II/2025”, sebagai simbol protes terhadap lambannya proses hukum kasus dugaan pembunuhan berdarah yang terjadi pada 21 Februari 2025 di Jalan Selambo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

Sebagai bentuk simbolik, massa membawa kue ulang tahun untuk Polri—namun dibarengi air mata, tanda kado pahit dari rakyat untuk institusi penegak hukum.

Pawas Polda Sumut, AKP Irwanta Sembiring, yang menemui massa, berjanji kasus ini akan dituntaskan.
“Akan mengawal perkara ini supaya cepat tuntas, termasuk menangkap pelaku-pelaku yang lain,” tegasnya.

Koordinator aksi, Arya Sinurat, menyebut aksi ini adalah bentuk desakan agar polisi lebih transparan dan serius menangani kasus yang kini dinilai mandek. Ia juga meminta Kapolda Sumut mencopot penyidik yang terkesan lamban serta membongkar semua pihak yang terlibat.

“Kami meminta Kapolda melindungi masyarakat sipil dan tegas menindak pelaku konflik sosial dan lahan. Jangan sampai ada korban berikutnya,” kata Arya.

Aksi berlangsung tertib meski penuh emosi. Namun massa mengancam akan kembali turun ke jalan jika tuntutan mereka tidak direspons secara nyata. Mereka menilai koordinasi antara Polda Sumut dan Polrestabes Medan belum maksimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *