“Umur saya 74 tahun, status janda, dan punya tiga cucu,” ungkap Nek Nurbaiti sambil terisak, mengucapkan setiap kata dengan berat. Kehidupan yang ia jalani tidaklah mudah, dan malam itu, ia merasa mendapat sedikit cahaya dari kehadiran Muhammad Sa’i Rangkuti dan timnya.
Tak lama setelah perbincangan, makanan yang dipesan oleh Nek Nurbaiti tiba dan dibungkus oleh pelayan Bandar Kupi. Sebelum pulang, Sa’i Rangkuti memberikan amplop tali asih kepada Nek Nurbaiti, sebagai tanda kepedulian. Tindakan ini dilakukan dengan rendah hati tanpa pamer, tetapi penuh dengan keikhlasan.
Ketika dimintai keterangan, Muhammad Sa’i Rangkuti mengatakan bahwa pertemuannya dengan Nek Nurbaiti mengingatkannya pada ibunya sendiri. “Saat melihat beliau, saya seperti melihat ibu saya. Bagaimana jika ini ibu saya? Saya tak bisa membayangkan,” ucapnya penuh emosi.
Muhammad Sa’i Rangkuti juga mengajak para sahabat dan masyarakat yang memiliki rezeki lebih untuk turut peduli terhadap kaum dhuafa. “Kita harus bersama-sama membantu mereka yang membutuhkan, seperti Nek Nurbaiti. Bagi saya, ini bukan sekadar kewajiban, tetapi panggilan hati,” ujarnya.













