Sementara itu Ketua Senat Unimed Prof Dr Syawal Gultom MPd dalam orasi ilmiahnya menekankan bahwa tidam ada kesulitan apapun yang akan menghalangi kecuali daya juang sudah melemah.
Menurutnya hanya daya juang yang memerdekakan negeri ini, bukan senjata dan bukan pula teknologi. Karena itu belajar dan berkacalah pada kultur yang kita miliki, yaitu daya juang.
Prof Syawal menambahkan konstruksi hirarkhis dari 4 C (Critical Thinking, Comunication, Collaboration dan Creativity) menunjukkan bahwa kreativitas terjadi dari interaksi yang solid antara berpikir tingkat tinggi, kandalan berkomunikasi dan kegigihan untuk bekerja sama.
Formula konstruktif ini menunjukkan bahwa proses pembentukan ke empat keterampilan ini memerlukan hirarkhi dan dilakukan sedini mungkin.
Berpikir tingkat tinggi yang telah dibakukan sebagai warisan terpenting pendidikan akan sangat menentukan kualitas kehidupan beragama, bersosial, berdemokrasi, berbagsa dan bernegara.
Bila menggunakan penalaran algoritmis, kemiskinan itu bermula dari cara berpikir yang berujung pada cara bekerja.
“Untuk lebih memantapkan kreativitas berkembang maka perlu didukung C5 (Computational Thinking) dan C6 (Compassion). Computational thinking terdiri dari abstraction (focus pada informasi penting, abaikan detail yang tidak relevan), algorithm (kembangkan solusi- langkah demi langkah-atau aturan untuk menyelesaikan masalah), pattern recognition (cari kesamaan diantara dan di dalam masalah), decomposing (urai masalah atau system yang kompleks kedalam bagian yang lebih kecil sehingga lebih mudah ditemukan akar masalahnya),” katanya.












