Dairi, pelitaharian.id – Warga yang tergabung dalam Aliansi Petani Untuk Keadilan (APUK) di Desa Bonian memperingati 17 Tahun Hari Anti Tambang dengan menggelar diskusi.
Temanya, Oligarki Tambang di balik Kejahatan Negara–Korporasi, memperparah Kerusakan Ruang Produksi Masyarakat-Perkuat solidaritas Rakyat.
Mereka juga mengenang 17 tahun peristiwa semburan lumpur lapindo di Sidoarjo pada 29 Mei 2006 silam.
Yang menarik, diskusi berbagi pengalaman dampak tambang ini tidak hanya dari warga Dairi yang ada di lingkar tambang PT Dairi Prima Mineral.
Tapi juga menghadirkan narasumber para korban dari tambang-tambang yang ada di Sumatera Utara.
Seperti komunitas Yayasan Srikandi Lestari dari Langkat, tepatnya daerah Pangkalan Susu yang menghadapi pembangunan PLTU Batubara.
Perwakilan warga yang sedang berhadapan langsung dengan Geothermal di Madina (Mandailing Natal).
Mereka semua menjadi korban dari tambang yang diizinkan oleh negara.
Menurut mereka negara kini menjadi semakin buta dan tuli menyikapi dampak tambang.
“Parahnya lagi tidak mau melihat bagaimana penderitaan rakyat akibat dampak tambang yang terjadi di lapangan,” ujar Mimi Surbakti, perwakilan Srikandi Lestari.












