Berita Utama

Warga Dairi Peringati 17 Tahun Hari Anti Tambang

13
×

Warga Dairi Peringati 17 Tahun Hari Anti Tambang

Sebarkan artikel ini
Warga yang tergabung dalam Aliansi Petani Untuk Keadilan (APUK) di Desa Bonian memperingati 17 Tahun Hari Anti Tambang dengan menggelar diskusi.

Suheiry dari Madina bercerita perjuangan mereka dalam melawan pertambangan emas di kampungnya.

Temannya seorang wanita menjadi korban tembak peluru karet dan terpaksa dilarikan ke Medan untuk perawatan.

Mereka juga pernah dikepung polisi selama 3 hari 3 malam. 

Mirisnya korban yang terkena peluru karet malah akhirnya dikriminalisasi oleh pihak kepolisian dengan menjadikannya sebagai tersangka. 

“Itu sebagai kesulitan dan kejamnya perjuangan melawan kehadiran pertambangan,” ujarnya dalam diskusi.

Petani dikatakannya hanya membutuhkan kenyamanan dalam menguasai tanah.

“Kalau sudah tak nyaman maka usaha tani kita akan gagal dan tinggal, untuk mendapatkan kenyamanan kita harus berjuang dengan semangat,” sapanya.

Saptar, perwakilan dari Madina mengajak para petani bersatu tanpa membedakan antara yang bersentuhan langsung dengan yang tidak bersentuhan langsung. 

Saptar merupakan perwakilan komunitas di mana desa mereka berada di tengah-tengah tambang Geothermal Sorik Marapi Power.

Dormaida Boru Sihotang mempertanyakan kenapa Hari Anti Tambang harus diperingati tiap tahunnya.

Katanya peristiwa 17 tahun lalu di Sidoarjo merupakan peringatan dan monumen sejarah yang nyata dan harus di ingat khususnya petani.

Cek Kesehatan Gratis Pemko Medan
Cek Kesehatan Gratis Pemko Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *