Berpikir tingkat tinggi yang telah dibakukan sebagai warisan terpenting pendidikan akan sangat menentukan kualitas kehidupan beragama, bersosial, berdemokrasi, berbagsa dan bernegara. Bila menggunakan penalaran algoritmis, kemiskinan itu bermula dari cara berpikir yang berujung pada cara bekerja. Untuk lebih memantapkan kreativitas berkembang maka perlu didukung C5 (Computational Thinking) dan C6 (Compassion). Computational thinking terdiri dari abstraction (focus pada informasi penting, abaikan detail yang tidak relevan), algorithm (kembangkan solusi- Langkah demi Langkah-atau aturan untuk menyelesaikan masalah), pattern recognition (cari kesamaan diantara dan di dalam masalah), decomposing (urai masalah atau sistem yang kompleks kedalam bagian yang lebih kecil sehingga lebih mudah ditemukan akar masalahnya).
Khusus untuk Indonesia bahwa kemiskinan itu sangat kontradiktif dengan potensi alam seperti yang ditulis Deputy Risbang Ristekbrin, 2020 bahwa potensi Indonesia adalah sebagai : 1) No.1 penghasil kelapa sawit terbesar dunia: 465.000 ton, 2) No.2 penghasil karet terbesar dunia: 2,80 juta ton, 3) No.2 penghasil timah terbesar dunia: 102.000 ton, 4) No.3 penghasil beras terbesar dunia: 35,8 jutaton, 5) No.3 penghasil nikel terbesar dunia: 229.000 ton, 6) No.3 penghasil kakao terbesar dunia: 545.000 ton, 7) No.4 penghasil kopi terbesar dunia: 465.000 ton, 8) No.6 output pertanian terbesar dunia: US$ 60 milyar, 9) No.6 penghasil batubara terbesar dunia: 141,1jutaton, 10) No.6 penghasil tembaga terbesar dunia: 789.000 ton. Selain itu Indonesia juga memliki potensi keanekaragaman hayati, 1) 16% spesies amfibi dan reptile dunia, 2) 12% spesies mamalia dunia, 3) 25% spesies ikan dunia, 4) 17% spesies burung dunia, dan 5) 10% spesies tanaman bunga dunia.












